Tampilkan postingan dengan label Manajemen Perkantoran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Perkantoran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2025

TATA CARA PENYUSUNAN LAPORAN KEGIATAN KEPROTOKOLAN

 

A. PENGERTIAN LAPORAN DAN FUNGSINYA

📘 Pengertian Laporan

Laporan adalah suatu bentuk penyajian informasi atau keterangan secara tertulis maupun lisan yang disusun secara sistematis dan objektif, berdasarkan fakta dan data yang diperoleh dari suatu kegiatan, penelitian, pengamatan, atau tugas tertentu.

Laporan dibuat dengan tujuan untuk memberikan informasi yang jelas, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak yang berkepentingan.

🎯 Fungsi Laporan

  1. Sebagai Alat Pertanggungjawaban

o    Laporan digunakan untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan suatu kegiatan kepada atasan, lembaga, atau pihak terkait.

  1. Sebagai Sumber Informasi

o    Laporan memberikan data dan informasi yang berguna bagi pihak yang membutuhkan untuk mengetahui jalannya suatu kegiatan atau kondisi tertentu.

  1. Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan

o    Pimpinan atau pihak terkait dapat menggunakan laporan sebagai referensi untuk menentukan langkah atau kebijakan selanjutnya.

  1. Sebagai Alat Evaluasi

o    Laporan dapat digunakan untuk menilai keberhasilan suatu kegiatan, termasuk menganalisis kekuatan dan kelemahan yang terjadi.

  1. Sebagai Dokumentasi

o    Laporan menjadi arsip tertulis yang dapat digunakan kembali di masa depan sebagai bukti pelaksanaan dan referensi kegiatan serupa.

 

B.  SYARAT-SYARAT KUALITAS DAN PENULIS LAPORAN

Syarat-Syarat Kualitas Laporan yang Baik

1.    Faktual (Berdasarkan Fakta)

o    Harus berdasarkan kejadian nyata dan data yang akurat.

2.    Objektif

o    Tidak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau perasaan penulis.

3.    Sistematis

o    Disusun dengan urutan yang terstruktur dan logis agar mudah dipahami.

4.    Lengkap

o    Memuat semua informasi penting yang diperlukan tanpa ada yang terlewat.

5.    Jelas dan Mudah Dipahami

o    Menggunakan bahasa yang lugas dan tidak bertele-tele.

6.    Relevan

o    Informasi yang disampaikan sesuai dengan topik atau tujuan laporan.

7.    Konsisten

o    Menggunakan format, istilah, dan gaya bahasa yang seragam sepanjang laporan.

8.    Tepat Waktu

o    Disampaikan atau diserahkan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

  

✍️ Syarat-Syarat Penulis Laporan

1.    Teliti 

o    Mampu mencatat dan menyusun informasi dengan cermat dan akurat.

2.    Jujur 

o    Menyampaikan fakta apa adanya tanpa manipulasi.

3.    Komunikatif 

o    Mampu menyampaikan informasi secara jelas dan efektif kepada pembaca.

4.    Menguasai Bahasa Tulis 

o    Punya kemampuan menulis yang baik dan paham ejaan serta tata bahasa.

5.    Mengerti Tujuan Laporan 

o    Memahami alasan dan kebutuhan dari laporan yang dibuat.

6.    Memiliki Kemampuan Analisis 

o    Bisa menganalisis informasi dan menyajikannya secara logis.

 

C. JENIS-JENIS LAPORAN

Berikut penjelasan tentang jenis-jenis laporan secara umum berdasarkan beberapa kategori:

📑 1. Berdasarkan Waktu Penyusunan

·         Laporan Berkala

o    Disusun secara rutin dan terjadwal (misalnya: laporan mingguan, bulanan, tahunan).

o    Contoh: Laporan keuangan bulanan, laporan kinerja tahunan.

·         Laporan Insidental

o    Dibuat sewaktu-waktu saat ada kegiatan atau kejadian khusus.

o    Contoh: Laporan kegiatan seminar, laporan insiden kecelakaan kerja.

📝 2. Berdasarkan Tujuan

·         Laporan Informasi

o    Bertujuan untuk memberikan informasi atau data tertentu.

o    Contoh: Laporan hasil survei, laporan data pelanggan.

·         Laporan Analisis

o    Berisi analisis mendalam terhadap suatu masalah atau kondisi.

o    Contoh: Laporan evaluasi kinerja, laporan SWOT perusahaan.

·         Laporan Pertanggungjawaban

o    Digunakan untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan suatu kegiatan.

o    Contoh: Laporan kegiatan kehumasan, laporan penggunaan anggaran.

🗂️ 3. Berdasarkan Sifat Isinya

·         Laporan Resmi

o    Mengikuti format dan struktur tertentu, serta menggunakan bahasa formal.

o    Contoh: Laporan dinas, laporan instansi pemerintah.

·         Laporan Tidak Resmi

o    Ditulis secara bebas, biasanya digunakan untuk keperluan pribadi atau informal.

o    Contoh: Catatan harian kegiatan, laporan kepada teman sejawat.

🧾 4. Berdasarkan Bentuknya

·         Laporan Tertulis

o    Disajikan dalam bentuk dokumen atau tulisan.

o    Contoh: Laporan naratif, laporan statistik.

·         Laporan Lisan

o    Disampaikan secara langsung melalui pembicaraan atau presentasi.

o    Contoh: Laporan hasil rapat yang disampaikan kepada pimpinan secara verbal.

 

D. SISTEMATIKA LAPORAN

Berikut penjelasan tentang sistematika laporan, yaitu urutan atau susunan bagian-bagian yang harus ada dalam laporan agar laporan tersebut tersusun dengan baik dan mudah dipahami.

📚 Sistematika Laporan yang Umum Digunakan

1. Halaman Judul

·         Berisi judul laporan, nama penulis atau tim, nama instansi/organisasi, dan waktu penyusunan.

2. Kata Pengantar (Opsional)

·         Ucapan syukur, maksud penulisan, dan ucapan terima kasih kepada pihak yang membantu.

 

3. Daftar Isi

·         Memuat daftar bagian-bagian laporan beserta nomor halaman agar memudahkan pembaca.

4. Bab I: Pendahuluan

·         Latar Belakang: Alasan atau dasar dilaksanakannya kegiatan.

·         Tujuan: Apa yang ingin dicapai dari kegiatan.

·         Ruang Lingkup: Batasan dan cakupan kegiatan yang dilaporkan.

5. Bab II: Pelaksanaan Kegiatan

·         Waktu dan Tempat: Kapan dan di mana kegiatan berlangsung.

·         Peserta: Siapa saja yang terlibat.

·         Rangkaian Kegiatan: Uraian lengkap tentang jalannya kegiatan dari awal hingga akhir.

·         Peran Panitia atau Tim (misalnya Humas): Apa saja yang dilakukan oleh masing-masing bagian.

6. Bab III: Hasil, Evaluasi, dan Tindak Lanjut

·         Hasil Kegiatan: Apa yang diperoleh dari kegiatan.

·         Kendala: Masalah yang dihadapi selama pelaksanaan.

·         Solusi dan Tindak Lanjut: Cara mengatasi kendala dan rencana ke depan.

7. Bab IV: Penutup

·         Kesimpulan: Ringkasan hasil dan pelaksanaan kegiatan.

·         Saran: Masukan untuk kegiatan berikutnya.

8. Lampiran

·         Foto kegiatan, daftar hadir, undangan, surat tugas, materi publikasi, dan dokumen pendukung lainnya.

 

E.   LANGKAH-LANGKAH POKOK PEMBUATAN LAPORAN

✍️ Langkah-Langkah Pokok Pembuatan Laporan

1. Menentukan Tujuan Laporan 

·  Tentukan terlebih dahulu untuk apa laporan dibuat: apakah untuk memberikan informasi, pertanggungjawaban, analisis, atau dokumentasi.

2. Mengumpulkan Data dan Informasi  

· Kumpulkan semua data dan informasi yang dibutuhkan dari kegiatan, observasi, wawancara, dokumentasi, atau sumber lain. 

·   Pastikan data yang dikumpulkan faktual, akurat, dan relevan.

3. Menyusun Kerangka atau Sistematika Laporan 

·  Buat rangka laporan terlebih dahulu sebagai panduan penulisan (misalnya: pendahuluan, isi, penutup, lampiran). 

4. Menulis Laporan 

·    Mulailah menulis berdasarkan kerangka yang telah disusun. 

·  Gunakan bahasa yang jelas, baku, dan logis, serta hindari pendapat pribadi jika laporan bersifat formal.

5. Mengevaluasi dan Merevisi 

·   Setelah selesai menulis, baca ulang laporan untuk mengecek kesalahan tata bahasa, ketidaksesuaian isi, atau kekurangan data. 

·   Lakukan penyuntingan jika diperlukan agar laporan lebih baik dan rapi.

6. Melengkapi dengan Lampiran 

·  Sertakan dokumen pendukung seperti foto, daftar hadir, surat tugas, hasil survei, atau data statistik.

7. Menyusun dan Menyajikan Laporan 

· Gabungkan semua bagian laporan menjadi satu dokumen lengkap dan rapikan formatnya agar mudah dibaca. 

· Laporan bisa disajikan dalam bentuk cetak maupun digital, tergantung kebutuhan.

 

F.   DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. (2012). Penulisan Laporan Kegiatan dan Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.

Gorys Keraf. (2001). Eksposisi dan Deskripsi. Jakarta: Gramedia.

Nurjamal, M., & Syam, N. (2019). Teknik Menulis Laporan. Bandung: Alfabeta.

Priyanto, B. (2016). Menulis Laporan yang Baik dan Benar. Yogyakarta: Deepublish.

Sudaryanto, T. (2015). Pedoman Praktis Menulis Laporan. Jakarta: PT. Grasindo.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tim Penyusun. (2020). Modul Kehumasan dan Publikasi. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

 


Rabu, 09 April 2025

PROSEDUR PENYELENGGARAAN PERTEMUAN/RAPAT



A.    Tipe-Tipe Pemimpin Rapat

1. Pemimpin Otoriter

Penjelasan:
Pemimpin rapat tipe ini bersifat dominan dan mengatur penuh jalannya rapat. Ia menentukan agenda, mengarahkan diskusi, dan sering kali membuat keputusan sendiri tanpa banyak melibatkan peserta rapat.

Kelebihan:

·         Rapat berjalan cepat dan terarah

·         Cocok untuk kondisi darurat atau krisis

Kekurangan:

·         Peserta kurang bebas mengemukakan pendapat

·         Kurang partisipatif dan bisa memicu ketegangan

 

2. Pemimpin Demokratis

Penjelasan:
Tipe ini mengutamakan kerja sama, mendengarkan pendapat peserta, dan mendorong partisipasi aktif. Keputusan biasanya diambil bersama melalui musyawarah.

Kelebihan:

·         Meningkatkan keterlibatan peserta

·         Keputusan lebih diterima oleh semua pihak

Kekurangan:

·         Membutuhkan waktu lebih lama

·         Kadang sulit mencapai kesepakatan

 

3. Pemimpin Delegatif (Laissez-Faire)

Penjelasan:
Pemimpin ini memberikan keleluasaan kepada peserta untuk mengelola dan menyelesaikan rapat. Ia hanya hadir sebagai fasilitator dan pengarah umum.

Kelebihan:

·         Mendorong kemandirian dan kreativitas

·         Cocok untuk tim profesional atau ahli

Kekurangan:

·         Rapat bisa tidak terarah

·         Risiko konflik jika tidak ada koordinasi

 

4. Pemimpin Karismatik

Penjelasan:
Mengandalkan daya tarik pribadi dan kemampuan memotivasi. Ia mampu menciptakan suasana rapat yang penuh semangat dan menginspirasi peserta.

Kelebihan:

·         Meningkatkan antusiasme dan semangat tim

·         Mampu membangkitkan kepercayaan diri peserta

Kekurangan:

·         Keberhasilan rapat sangat tergantung pada sosok pemimpin

·         Kurang efektif jika tidak diimbangi dengan manajemen yang baik

 

5. Pemimpin Visioner

Penjelasan:
Pemimpin ini fokus pada arah dan tujuan jangka panjang. Ia mendorong peserta rapat untuk berpikir strategis dan inovatif.

Kelebihan:

·         Membantu tim melihat gambaran besar

·         Cocok untuk perencanaan jangka panjang atau inovasi

Kekurangan:

·         Kurang perhatian terhadap detail teknis

·         Butuh dukungan tim yang juga visioner

 

6. Pemimpin Transaksional

Penjelasan:
Mengelola rapat berdasarkan struktur, aturan, dan pencapaian target. Fokusnya adalah pada hasil dan efisiensi kerja.

Kelebihan:

·         Rapat berjalan disiplin dan terstruktur

·         Cocok untuk evaluasi kinerja atau laporan rutin

Kekurangan:

·         Kurang fleksibel terhadap ide baru

·         Cenderung kaku dan monoton

 

B.    TIPE-TIPE PESERTA RAPAT

1. Peserta Aktif

Penjelasan:
Selalu terlibat dalam diskusi, memberikan pendapat, dan bertanya jika ada hal yang belum jelas. Tipe ini mendukung jalannya rapat agar lebih dinamis dan produktif.

Ciri-ciri:

·         Berani bicara

·         Responsif terhadap topik

·         Mendorong ide atau solusi

Kelebihan: Membantu memperkaya diskusi dan pengambilan keputusan.
Kekurangan: Bisa terlalu dominan jika tidak dikendalikan.

 

2. Peserta Pasif

Penjelasan:
Hadir dalam rapat namun jarang atau tidak pernah menyampaikan pendapat. Biasanya hanya mendengarkan dan mencatat.

Ciri-ciri:

·         Tidak banyak bicara

·         Cenderung menerima tanpa komentar

·         Bisa karena malu, tidak paham, atau tidak tertarik

Kelebihan: Tidak mengganggu jalannya rapat
Kekurangan: Kurang kontribusi, potensi ide terpendam

 

3. Peserta Kritikal

Penjelasan:
Selalu memberi masukan atau kritik terhadap ide yang disampaikan. Tipe ini penting untuk menguji kekuatan suatu keputusan.

Ciri-ciri:

·         Teliti dan analitis

·         Cenderung bertanya "kenapa" dan "bagaimana"

·         Bisa memicu debat sehat

Kelebihan: Membantu mengevaluasi keputusan secara objektif
Kekurangan: Bisa dianggap mengganggu jika terlalu tajam

 

4. Peserta Dominan

Penjelasan:
Sering mendominasi pembicaraan, terkadang tanpa memberi kesempatan kepada peserta lain untuk berbicara.

Ciri-ciri:

·         Sering menyela

·         Merasa pendapatnya paling benar

·         Banyak bicara meski tidak diminta

Kelebihan: Punya inisiatif tinggi
Kekurangan: Bisa menekan partisipasi peserta lain

 

5. Peserta Pendukung

Penjelasan:
Biasanya setuju dengan sebagian besar pendapat yang ada dan mendukung keputusan pimpinan rapat.

Ciri-ciri:

·         Setuju tanpa banyak komentar

·         Menjaga suasana rapat tetap kondusif

·         Tidak banyak memberikan ide baru

Kelebihan: Menciptakan stabilitas dalam diskusi
Kekurangan: Kurang kritis, bisa menutupi kekurangan ide

 

6. Peserta Pengalih (Distraktor)

Penjelasan:
Sering membawa topik keluar dari agenda rapat. Bisa karena kurang fokus atau tidak memahami materi.

Ciri-ciri:

·         Menyampaikan hal tidak relevan

·         Sering bercanda di luar konteks

·         Mengganggu konsentrasi peserta lain

Kelebihan: Kadang bisa mencairkan suasana
Kekurangan: Menghambat fokus dan efisiensi rapat

 

C.    JENIS-JENIS PENGENDALIAN RAPAT

1. Pengendalian Waktu

Penjelasan:
Mengatur agar rapat berjalan sesuai jadwal, tidak terlalu lama atau keluar dari batas waktu yang ditentukan.

Tujuan:

·         Menjaga efisiensi

·         Menghindari pemborosan waktu

·         Memberi kesempatan merata untuk tiap agenda

Contoh:
Moderator mengingatkan waktu saat diskusi terlalu panjang pada satu topik.

 

2. Pengendalian Agenda

Penjelasan:
Menjaga agar jalannya rapat tetap sesuai dengan topik atau agenda yang telah ditentukan sebelumnya.

Tujuan:

·         Mencegah diskusi melebar

·         Fokus pada hal-hal penting

·         Menjamin semua poin dalam agenda dibahas

Contoh:
Jika peserta membahas topik di luar agenda, pimpinan rapat mengarahkan kembali ke topik utama.

 

3. Pengendalian Peserta

Penjelasan:
Mengatur partisipasi peserta agar tidak ada yang terlalu mendominasi atau sebaliknya terlalu pasif.

Tujuan:

·         Mendorong partisipasi seimbang

·         Menjaga suasana diskusi tetap kondusif

·         Mencegah konflik atau interupsi

Contoh:
Pimpinan memberi giliran bicara secara adil atau menengahi debat yang mulai memanas.

 

4. Pengendalian Keputusan

Penjelasan:
Mengawal proses pengambilan keputusan agar berlangsung dengan adil, rasional, dan sesuai prosedur.

Tujuan:

·         Menjamin keputusan diambil secara tepat

·         Melibatkan seluruh peserta

·         Mencapai kesepakatan yang bisa dijalankan

Contoh:
Pemimpin merangkum poin diskusi sebelum mengambil keputusan melalui musyawarah atau voting.

 

5. Pengendalian Komunikasi

Penjelasan:
Menjaga kelancaran arus komunikasi dalam rapat agar informasi yang disampaikan jelas, efektif, dan tidak membingungkan.

Tujuan:

·         Menghindari miskomunikasi

·         Menjamin semua pendapat didengar

·         Menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami

Contoh:
Moderator menyimpulkan kembali inti pembicaraan atau memperjelas pesan dari peserta.

 

D.   TEKNIK BERTANYA DALAM RAPAT

1. Pertanyaan Terbuka

Penjelasan:
Pertanyaan yang mendorong peserta menjawab secara panjang dan menjelaskan ide atau pendapat mereka.

Tujuan:

·         Menggali informasi lebih dalam

·         Mendorong diskusi

Contoh:

·         “Apa pendapat Anda tentang rencana ini?”

·         “Menurut Anda, bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini?”

Gunakan saat ingin mendapatkan masukan atau ide kreatif.

 

2. Pertanyaan Tertutup

Penjelasan:
Pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban singkat seperti "ya" atau "tidak", atau pilihan terbatas.

Tujuan:

·         Memastikan informasi spesifik

·         Mengonfirmasi keputusan

Contoh:

·         “Apakah Anda setuju dengan usulan tersebut?”

·         “Sudahkah tim Anda menyelesaikan tugas itu?”

Gunakan saat butuh kejelasan atau keputusan cepat.

 

3. Pertanyaan Reflektif

Penjelasan:
Pertanyaan yang mengulang atau menyimpulkan pernyataan sebelumnya agar peserta bisa berpikir ulang atau memperjelas.

Tujuan:

·         Memastikan pemahaman

·         Mengajak peserta meninjau kembali pendapatnya

Contoh:

·         “Jadi Anda mengatakan bahwa strategi ini kurang efektif, benar begitu?”

·         “Apakah maksud Anda bahwa jadwal pelaksanaan terlalu ketat?”

Gunakan untuk memperjelas dan menunjukkan bahwa Anda mendengarkan.

 

4. Pertanyaan Probing (Mendalam)

Penjelasan:
Pertanyaan lanjutan untuk mengeksplorasi lebih jauh dari jawaban sebelumnya.

Tujuan:

·         Menggali detail atau alasan di balik suatu pendapat

·         Mendorong peserta berpikir lebih kritis

Contoh:

·         “Mengapa Anda merasa itu bukan solusi yang tepat?”

·         “Apa faktor utama yang membuat Anda memilih pendekatan itu?”

Gunakan saat jawaban masih terlalu umum atau belum memuaskan.

 

5. Pertanyaan Hipotetik

Penjelasan:
Pertanyaan berupa skenario "andaikan" untuk menguji reaksi atau kesiapan peserta terhadap situasi tertentu.

Tujuan:

·         Menguji logika atau kesiapan solusi

·         Mendorong berpikir strategis

Contoh:

·         “Bagaimana jika dana tidak tersedia, apakah ada alternatif lain?”

·         “Misalnya proyek ini tertunda, apa dampaknya bagi divisi Anda?”

Gunakan untuk simulasi keputusan atau analisis risiko.

 

6. Pertanyaan Klarifikasi

Penjelasan:
Digunakan untuk meminta penjelasan ulang atau memperjelas maksud dari pernyataan peserta.

Tujuan:

·         Memastikan tidak ada miskomunikasi

·         Membantu peserta lain memahami poin yang disampaikan

Contoh:

·         “Bisa dijelaskan maksud Anda dengan ‘pendekatan baru’ itu?”

·         “Apakah Anda bisa perinci lebih lanjut tentang solusi tersebut?”

Gunakan saat pembicaraan mulai membingungkan atau terlalu teknis.

 

E.    PENYELENGGARAAN RAPAT

Penyelenggaraan rapat adalah proses pelaksanaan pertemuan resmi antara dua orang atau lebih dengan tujuan untuk membahas suatu topik, menyampaikan informasi, mengambil keputusan, atau memecahkan masalah. Penyelenggaraan rapat harus dilakukan secara terencana, tertib, dan terarah agar tujuan rapat tercapai dengan efektif.

 

1. Persiapan Rapat

Tahap awal untuk memastikan kelancaran rapat.

Langkah-langkah:

·         Menentukan tujuan rapat (misalnya: evaluasi, perencanaan, pengambilan keputusan)

·         Menyusun agenda rapat (daftar topik yang akan dibahas)

·         Menentukan waktu dan tempat rapat

·         Menyiapkan undangan rapat dan mengirimkannya ke peserta

·         Mempersiapkan perlengkapan (alat tulis, proyektor, notulen, konsumsi, dll.)

 

2. Pelaksanaan Rapat

Tahap inti di mana diskusi dan interaksi antar peserta terjadi.

Langkah-langkah:

·         Pembukaan rapat oleh pimpinan rapat

·         Menyampaikan agenda rapat

·         Diskusi sesuai agenda yang telah disusun

·         Pengambilan keputusan, jika diperlukan

·         Memberi kesempatan bertanya dan menyampaikan pendapat

 

3. Pengendalian Rapat

Agar rapat berjalan efektif dan tidak keluar dari jalur.

Dilakukan oleh pimpinan rapat:

·         Mengatur waktu

·         Menjaga fokus sesuai agenda

·         Mengelola dinamika peserta (agar semua berpartisipasi)

·         Mencegah konflik atau interupsi yang tidak perlu

 

4. Penutupan Rapat

Mengakhiri rapat dengan kesimpulan dan tindak lanjut.

Langkah-langkah:

·         Menyimpulkan hasil rapat

·         Menetapkan tindak lanjut dan penanggung jawab

·         Menentukan jadwal rapat berikutnya (jika ada)

·         Ucapan terima kasih dan penutupan secara resmi

 

5. Penyusunan Notulen Rapat

Dokumentasi resmi dari jalannya rapat.

Isi notulen meliputi:

·         Waktu dan tempat rapat

·         Daftar hadir peserta

·         Agenda yang dibahas

·         Hasil keputusan

·         Tugas atau tindak lanjut

 

F.     DAFTAR PUSTAKA

Moekijat. Manajemen Rapat. Bandung: Mandar Maju, 2005.

Handayaningrat, Soewardi. Pengantar Studi Administrasi Negara. Jakarta: CV. Haji Masagung, 2001.

Suryana. Kepemimpinan dalam Organisasi. Bandung: CV. Alfabeta, 2010.

Soetjipto, and Kosasi. Administrasi Perkantoran Modern. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

Sedarmayanti. Manajemen Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: Refika Aditama, 2009.

Sugiharto, Bambang. Manajemen Pertemuan dan Rapat. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013.